Memasuki daerah Konawe Selatan kami banyak menemukan masyarakat dengan memakai sepeda motor dengan membawa wajan, linggis, sekopang, dan tenda serta beras, tidak lupa juga mereka membawa peralatan memasak.
Waduh…. sungguh perjalanan yang melelahkan, pantat panas, gerah, bercampur debu jalanan, karena jalan raya dari Konawe Selatan menuju Bombana kondisi jalannya rusak banyak lobang2nya….. tapi karena penasaran ingin melihat langsung tambang emas tersebut, dibela-belain jalan aja…..dan memang bener cerita teman2, bahwa banyak orang-orang yang menuju kelokasi tambang tersebut, buktinya dijalan kami menjumpai banyak sekali kendaraan sepeda motor pada menuju kesana.
Singkat cerita, kami masuk di lokasi penambangan namun bensin dikendaraan sudah menunjukkan perlu pengisian bensin……… waduh susahnya cari bensin…… putar-putar kami menemukan bensih yang dijual perbotol tapi harganya melambung…….. hehehehehe…. apa boleh buat kami beli saja, dari pada motor ga bisa jalan.
Pada post kedua, kami menemukan masyarakat sementara memisahkan emas dan pasir yang telah digoreng, dan bapak tersebut telah mengumpulkan sekitar 10 gram……. hebat ga?….. dan kami dibuat terheran-heran, sebab pasir campur tanah yang mereka dulang dengan memakai wajan ternyata sudah biji-biji emas murni berwarna kuning dan sudah matang……… ga perlu diproses kimia lagi….
Pada post ketiga, kami menemukan perkemahan darurat dengan memakai terpal disepanjang jalan masuk lokasi penambangan…….. dan kami melihat mereka sudah menjadikan tenda tersebut sebagai rumah kedua, karena banyak juga mereka membawa seluruh keluarganya ke lokasi tersebut dan mereka juga melakukan proses masak memasak.
Pada post keempat, kami menemukan jalur menuju sungai kecil (lokasi dulang emas) sangat terjal jurangnya dan licin………. kami paksakan saja turun dengan berjalan kaki dengan hati-hati…….. dan Masya Allah disungai kecil tersebut ribuan manusia sedang mendulang emas mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek……….
Menurut cerita masyarakat yang mempunyai kebun disekitar lokasi, bahwa kandungan emas di Bombana tersebut samapi ratusan hektar, dan Pemerintah bermaksud akan menertibkan penambang-penambang dan mungkin akan dilakukan rencana pengadaan infrastruktur yang lebih baik dan melibatkan investor asing.
Tepat jam 17.00 wita, kami bergegas kembali ke ibukota bombana untuk berbuka puasa dirumah salah satu pegawai Diknas setempat.
Nah…. itulah kisah race to search Bombana Gold yang sungguh melelahkan tapi puas melihat langsung, kemungkinan besok kami juga mau coba-coba mendulang emas… sapatau bisa dapat juga.. heheheheh :))
Berita Lain :
Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), H Nur Alam mengatakan, ditemukannya lokasi tambang emas di Lembah Sungai Tahi Ite dan Wububangka, Kecamatan Rarowatu dan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, merupakan rahmat dan berkah “Lailatul Qadar” dari Allah SWT .
“Awalnya, saya tidak percaya sama sekali bahwa ada berita tentang penemuan tambang emas di Kabupaten Bombana, tetapi setelah kami melihat langsung di lokasi ini, ternyata inilah yang mungkin dinamakan rahmat dari Allalah, apalagi disuasana di bulan Suci Ramadhan saat ini,” kata Gubernur Sultra, saat melakukan peninjauan di lokasi tambang rakyat di Sungai Tahi Ite, Bombana, sekitar 50 Km dari Ibukota Bombana atau 230 Km dari Kota Kendari,
Kedatagan gubernur di lokasi yang kini sudah menjadi ‘lautan’ manusia itu, menjadi titik perhatian para penambang rakyat yang datang bukan hanya dari masyarkat Bombana dan Sultra, tetapi juga datang dari luar daerah seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan dan bahkan ada yang datang dari Papua dan pulau Jawa itu.
Gubernur minta kepada masyarakat yang masih melakukan penambangan secara manual, untuk tetap saja melakukan penambangan sebelum Pemerintah mengeluarkan satu keputusan dan kebijakan terkait aktivitas penambangan yang dinilai sudah tak terkendali dengan jumlah ribuan masayarakat yang datang setiap hari di lokasi itu.
Ia mengatakan, Pemprov Sultra dalam waktu singkat akan membawa sampel lempengan emas seberat 117 gram yang diberikan oleh salah seorang Kepala Desa di Kecamatan Rarowatu ini.
“Emas lempengan ini, saya akan bawa ke Jakarta [19/09], untuk memperlihatkan sekaligus melaporkan kepada Bapak Presiden dan Wakil Presiden, bahwa di Kabupaten Bombana, ternyata memang ada kandungan emas yang jumlah devositnya belum diketahui pasti,” kata Nur Alam yang didampingi Bupati Bombana, Atikurrahman, di lokasi pertambangan rakyat itu.
Pemantauan ANTARA di lokasi pertambangan emas rakyat, masyarakat dari berbagai pelosok nusantara berdatangan ke lokasi tersebut untuk mendulang emas, hanya berbekal dengan membawa peralatan manual seperti wajan, cangkul, linggis dan sekopang.
“Kalau dihitung-hitung secara kasakmata, jumlah pendulang emas tersebut mencapai sekitar 20.000 orang,” kata Petugas Satpol PP Kabupaten Bombana, Suhardi Suhar yang ditemui secara terpisah.
Para pendulang, mendirikan tenda-tenda kemah sepanjang sungai yang diperkirakan lebih dari 15 km mulai dari hulu Sungai Tahi Ite di Kecamatan Rarowatu, Wabubungku Kecamatan Rarowatu Utara dan Desa Hukaeya Kecamtan Rumbia.
Menariknya di lokasi tempat para pendulang emas mencari reski itu, karena begitu mereka selasai mendulang dan mendaptkan hasil, para pedagang emas yang datang dari kota langsung menawarkan dengan harga belu bervariasi muli dari hrg terendah Rp170.000 per gram hingga ada yang membeli Rp200.000 per gramnya.
Ny. Hawiah, salah seorag pedulang dari Kecamatan Raowatu mengatakan selama empat hari mendulang emas di air keruh, sudah mendapatkan emas 15 gram.
Bupati Bombana, Atikurahman, yang dihubungi terpisah mengatakan, hingga saat ini pemerintah daerah belum mengeluarkan aturan mengenai pengelolaan tambang emas tersebut, kecuali hanya melakukan pengawasan dan penertiban warga pendulang dengan memperlihatkan identitas yang jelas, yakni kartu tanda penduduk.
“Memang sudah ada semacan pungutan retriibusi kepada setiap calon pendulang yang masuk dilokasi itu dengan nilai Rp50.000 per orang untuk sekali selama mereka melakukan aktivitas mendulang,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, jalan disepanjang lokasi masuk ke tempat dimana kegiatan penambangan rakyat itu, cukup ramai bagaikan kota kecil karena tidak putusnya masyarakat lalu lalang dengan kendaraan roda dua dan empat ke lokasi itu.
BERITA MENGEJUTKAN :
1. Di Lokasi SP9 warga Jawa Timur mendulang emas mulai pagi sampai sore bersama isterinya mengumpulkan emas 130 gram. dan besoknya mereka langsung cabut dari Bombana.
2. Sampai hari ini di 3 (tiga) lokasi Penambangan, Info langsung dari Masyarakat menyatakan bahwa sudah 12 (dua belas) orang yang meninggal dunia akibat ditimbun tanah longsor.
